kisah sebuah kehidupan

Salam Perkenalan

Assalamualaikum wbt…

Laman ini masih dalam pengemaskinian… 🙂 Segala kekurangan amatlah dikesali. Terima kasih kerana mengunjungi ismikhair…


Hari ni bertarikh 5 Mac 2011, bersamaan 1 RabiulAkhir 1432H. Berakhirlah sudah bulan kelahiran junjungan mulia. Persoalannya… Apatah kita masih ingatkan Habibullah ? Ingatlah ye, kita perlu mengingati Rasulullah SAW setiap masa, setiap detik walau dimana kita berada. Jom sama-sama kita hayati lirik lagu dari Raihan ini. Kullum am waantum bikhair. 🙂

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenanganmu

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kukucup tanganmu
Moga mengalir keberkatan dalam diriku
Untuk mengikut jejak langkahmu

Ya Rasulullah Ya Habiballah
Tak pernah kutatap wajahmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kami rindu padamu
Allahumma Solli Ala Muhammad
Ya Rabbi Solli Alaihi Wasallim ( 2X )

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kudakap dirimu
Tiada kata yang dapat aku ucapkan
Hanya tuhan saja yang tahu

Kutahu cintamu kepada umat
Umati kutahu bimbangnya kau tentang kami
Syafaatkan kami
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu

Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenanganmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Terimalah kami sebagai umatmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kurniakanlah syafaatmu


Gambar Pertama ini diambil sewaktu penulis bercuti di pulau, namanya tidak dapat dipastikan, adakah ia spesis monyet atau tidak. Apapun, ekor hidupan alam ini sungguh panjang…heh.


Gambar kedua pula adalah gambar labah-labah, omputeh sebut sepieder “spider”… Juga tidak dikenali secara saintifik…




Bermula Mac 2011, IslamicWorlds akan menyediakan ruangan fotografi khas. Foto-foto yang disiarkan adalah bertemakan alam sekitar, flora fauna dan keindahan alam. Anda turut diundang untuk mengirimkan foto dari koleksi persendirian bagi dikongsi bersama. Foto yang paling menarik / kreatif akan diberikan hadiah oleh pihak kami.

Sebarang soalan / berminat, emelkan kepada saya di [ ]

Syukran. Smile


If honesty reflects internal rectitude, dishonest external conduct mirrors hypocrisy. Utterly relevant to this principle is the Prophet Muhammad’s reminder that there are three signs of a hypocrite (munafiq): when he speaks, he lies; when he promises, he breaks his promise; and when he is trusted with something, he betrays that trust.


The significance of this Prophetic tradition is accentuated by the fact that it has been rigorously authenticated by many authorities including Bukhari and Muslim, in various chapters of their canonical hadith collections. It is worthy to note that exactly the same is reported by al-Tirmidhi and al-Nasa’i, while similar versions are reported by Ibn Abi al-Dunya, in his work on the virtue of avoiding evil talk titled al-Samt.Those three signs of hypocrisy are also confirmed by the Qur’an, as pointed out by al-Khara’iti, in his Kitab Makarim al-Akhlaq, as the following:

First, when he speaks, he lies: the hypocrites swear openly that they are taking the Prophet Muhammad as a model of submission to God. On the contrary, "God bears witness that the hypocrites are indeed liars. They have made their oaths a screen for their misdeed" (63:1-2).

Second, when he promises, he breaks his promise: it is recorded in the Qur’an that the hypocrites made a covenant with God, that if He bestowed on them of His bounty, they would spend largely in charity, and be truly among the righteous. But as soon as He has given them out of His bounty, they became covetous, and turned back from their promise, averse from its fulfilment.

The Qur’an subsequently states that such excessive love of worldly possessions gives rise to moral hypocrisy of being false to promises and words: "So, God has put as a consequence hypocrisy into their hearts, till the day they meet Him: because they broke their Covenant with God, and because they lied again and again" (9:75-77).

The third sign, when he is entrusted with something, he betrays that trust, which ultimately referring to the divine trust to man, the trust which was once offered to but declined by the heavens, the earth and the mountains because they are being afraid of it. Such betrayal is indeed an unjust and foolish act resulting in divine punishment (33:72-73).

In fact, in the narration recorded by Imam Muslim, the Prophet is reported to have made a further insistent remark, "even if the person involved ritually observes canonical fasting and prayers, and asserts that he is a Muslim or one who submits to God." On some occasions, a person observes religious rituals exactly in order to deceive others. To borrow from John Ruskin’s Time and Tide: "a knave’s religion is always the rottenest thing about him." The Caliph ‘Umar reminded us on this: "Don’t let a man’s humming of prayer during the night deceive you. A true man is the one who keeps his trust and returns it to whom it is due, and from whose tongue and hand Muslims are safe."

To return to the original hadith that we are discussing, in the version reported by Bukhari and other authorities, there is an additional, fourth sign: when he quarrels, he deviates from the truth, being very insolent-or impudent-evil and insulting. This is because a real hypocrite is willing to say anything whatsoever to win a dispute. He wants to win at all costs and does not care about what is true and what is false.

Because of this habit, he may also be very skilful at repelling the truth when it is presented to him.There is also a marfu‘ hadith from Abu Umamah on other additional signs of hypocrites, "when he gets financial opportunity, he acted unfaithfully in embezzling the property; when he is commanded in religious matters, he disobeys God; and when he encounters enemy or difficult situation, he becomes a coward." Observing that a liar tends to be a betrayer, embezzler, coward, and disobedient to God all at once, it has been wisely said, "Everything is something, but the friendship of a liar is nothing."

One of the Sufis noted, "If a man does not fulfil the one perpetual religious obligation (al-fard al-da’im), his performance of religious obligation at the times assigned (al-fard al-mu’aqqat) will not be accepted from him." Someone asked, "What is the one perpetual religious obligation?" He responded, "Truthfulness." Meaning, God’s acceptance of one’s five times daily prayer, annual zakat, fasting the month of Ramadan, and pilgrimage during its months, for example, is subsequent to one lives a truthful life.

It has been stated by Masruq ibn al-Ajda’, a respected tabi‘in, that "nothing is more grievous to God than one’s being untruthful (laysa shay’ a‘zam ‘ind Allah min al-kidhb)."Perhaps the reason is because, to borrow Yazid ibn Maysarah’s apt simile, that "untruthfulness irrigates the field of all wickedness as water irrigates the roots of tree (inna al-kidhb yasqi bab kull sharr kama yasqi al-ma’ usul al-shajar)."As Syed Sulaiman Nadvi observed in his study on relevant Qur’anic verses titled Ethics in Islam, untruthfulness is indeed productive of other evils, such as being sinful and transgression, called in the Qur’an as affak athim and musrif kadhdhab, respectively (26:221-222;40:28).

This is because a liar will not hesitate to commit an evil act, or to exceed the limit of propriety.He thinks that he would be able to hide such acts of his merely by telling another lie, or breaking another promise, or betraying another trust-all at what he calculates as an appropriate time. A liar is also an ungrateful person to any of his benefactors, because he suspects others are as untruthful as he is in his intention, speech and action. The Qur’an identifies such a person with kadhib kaffar (39:3).

Source : Dr. Mohd Sani Badron, Institute of Islamic Understanding Malaysia.


Assalamualaikum… lihat tajuk pasti anda ingin tahu bagaimana bentuk lukisan alam ini. Kisah ini saya diperdengarkan dalam Forum Perdana yang dibawa secara langsung dari UTP.

Bermulanya alkisah… Suatu ketika dahulu, ramai pelukis-pelukis handal dari seluruh dunia mengejar status keagungan lukisan yang mereka cipta. Kebanyakan lukisan yang dihasilkan teramatlah cantik sehinggakan tidak diketahui siapakah yang paling layak dianugerahkan pelukis terhebat. Oleh kerana terlalu sukar untuk membuat penilaian teresbut sehinggakan berita ini tersebar luas di pelusuk dunia, maka sampailah ia kepada Maharaja China (tidak dapat dipastikan Dinasti apa). Setelah dipesetujui oleh Maharaja, maka diadakan satu pertandingan melukis bagi menilai kehebatan mereka. Selepas beberapa saringan / tahap pertandingan yang dibuat, tibalah saat yang dinanti-nantikan oleh semua yang mana negara yang akan bertanding pada peringkat terakhir adalah negara China dan negara Rom.

Pada hari pertandingan di antara China dan Rom, Maharaja telah membahagikan dua kawasan kepada setiap negara. Dan di tengah-tengah nya diletakkan satu tabir / tirai yang besar bagi memisahkan antara kedua-duanya. Sebelum bermula, setiap negara dibenarkan meminta apa-apa warna yang diinginkan mereka dan sekeping papan besar disediakan untuk mereka melukis.

Setelah bermulanya pertandingan, pelukis-pelukis dari China dan Rom bersungguh-sungguh menghasilkan karya alam mereka. Ramai yang beranggapan pelukis dari China yang memenangi pertandingan disebabkan warna yang diminta adalah terlalu banyak, sementara pelukis dari Rom langsung tidak meminta apa-apa warna melainkan pisau dan batu asah. Pelukis-pelukis tersebut telah diberi masa selama beberapa hari bagi menyiapkan karya masing-masing.

Pada hari terakhir (hari yang menentukan lukisan tercantik), Maharaja telah memilih untuk membuka tirai dari negara China sebelum dibuka tirai dari negara Rom. Alangkah terpegunnya raja dan semua yang hadir tatkala melihat keindahan dan kecantikan lukisan dari negara China. Mereka tidak dapat menyatakan betapa indahnya lukisan yang menggabungkan pelbagai warna itu….

Dan setibanya masa untuk dibuka tirai dari negara Rom, pelukisnya telah meminta sebuah cermin yang besar. Semua yang hadir tertanya-tanya apakah yang dilakukan oleh pelukis dari negara Rom. Apabila tirai tersebut dibuka. Maka terpancarlah satu lukisan alam yang tidak ada tolok tandingnya. Dengan ukiran bermotifkan alam dan diserikan lagi dengan warna yang sungguh cantik. Warna tersebut adalah pantulan dari lukisan yang dihasilkan oleh pelukis  negara China (menggunakan cermin), dan ditambah pula dengan ukiran dari negara Rom. Karya lukisan yang dihasilkan oleh negara Rom telah berjaya menambat hati Maharaja China, bukan kerana kecantikan / keindahan semata-mata, malahan ia disebabkan oleh kebijaksanaan pelukis dari Rom yang berjaya menyatukan lukisan alam dari kedua-duanya…

Kesimpulannya, untuk membina sesuatu yang hebat, kita perlulah lebih bijak dari orang yang bijak. ~ ismikhair

Dikisahkan secara ringkas shj… Smile


Assalamualaikum wbt.

Sejarah blog ini telah bermula pada tahun 2008 sewaktu mengikuti kursus Sun Java Microsystem di Terengganu. Al maklumlah, time lecturer bg esemen, bermulalah proses mengarang bg kebanyakan peserta kursus. Huh… memang boleh dikatakan semua ado personal blog… geng laki citer pasal software, tutorial dan download… yang gurl pulak…hehe, mestilah pasal cintan cintun, friendship…etc. Walau apapun yg kitaorang buat…lecturer (Mr.Kishore dr Hydrabad) still cool jerk. Time test tu la br nk buat revision (hapal jek 500 soalan). Kalau nk diceritakan kat sini memang x habis. Cuma yg ingn ak sampaikn adalah memori yang tersemat selama 6 bulan kat J@SPER. Byk pengalaman yg diperoleh, banyak pahit manis yang ditempuhi… Aku rindu korang semua. Semoga kita akan bersua lagi. buat reunion ke… Di sini aku senaraikan geng2 kelas Beta, J@SPER 2008. (SunJava Microsystem Certified Programmer & Sun Java Microsystem Web Component Developer).

1. Akulah…ismikhair

2. Juljasmi – Kyushu Institute of Technology KIT,

3. Hariz – Universiti Darul Iman.

4. Faizul – Universiti Tun Abd. Razak,

5. Faiz – Politeknik Sultan Mizan Zainal Abidin,

6. Nadhirah – Universiti Malaysia Terengganu,

7. Mira – Politeknik Sultan Mizan Zainal Abidin,

8. Zuraidah – Universiti Malaysia Terengganu,

9. Ida – Universiti Darul Iman

10. Haniza – Universiti Teknologi Malaysia

11. Maa – Universiti Darul Iman

12. Khadijah – Universiti Utara Malaysia

13. Ima – Universiti Teknikal Malaysia

14. Fatimah – Universiti Darul Iman

15. Munirah – Universiti Tun Hussein Onn

* Maaf ek kalau tersilap “U”…dah lupa dah.

So, inilah wajah terbaharu blog ini…setelah 3 kali revolusi… huhu…sebab time free je ni. OKeh… Wassalam.

Gumpalan Label